ILMARANG

ILMARANG
PANTAI LEKWAKI

Senin, 05 Mei 2014

SEJARAH HANCURNYA DESA MARAY (DESA ILMARANG)



A.      Letak Geografisnya


Desa Maray ini terletak di pulau Dawera yang paling berdekatan dengan pulau Dawelor. Pulau Dawera dan Dawelor termasuk dalam gugusan kepulauan Babar, yang dalam posisi kedudukannya dalam wilayah Propinsi Maluku. Terletak di bagian Selatan dari Maluku, yang sejak pemerintahan Hindia Belanda sudah ada pembagian termaksud dan disebut kepulauan “Selatan Daya”, sesuai letak astronomi (mata angin) dan sesuai dengan pembagian wilayah kekuasaan pemerintahan Propinsi maluku, disebut kabupaten Maluku Tenggara, sedangkan kepulauan Babar menjadi satu kecamatan dari antara delapan kecamatan di dalam wilayah kekuasaan pemerintah kabupaten Maluku Tenggara sekarang ini.

B.      Aspek Sosial Budayanya

Kedua pulau ini, pulau Dawera (disebut pulau darat agak menjorok ke darat/pulau babar)  dan pulau Dawelor (disebut laut, yaitu agak ke laut, bila di lihat posisinya terhadap pulau Dawera) atau apabila di atas masing-masing pulau-pulau itu dilihat dan dibandingkan letak masing-masing pulau itu terhadap pulau Babar. Hal ini sesuai dengan cara pandang dari penduduk atau masyarakat pulau Dawera dan pulau Dawelor pada zaman dahulu kala.
Penduduk pulau dawera dan pulau Dawelor yang paling berdekatan itu dapat memungkinkan sekali bahwa sejak zaman dahulu kala penduduknya berasal dari satu turunan atau satu keluarga karena mempunyai budaya yang sama seperti adat istiadat yang pada hakekatnya sama, yang mungkin saja ada variasi dalam pelaksanaan upacara adat tertentu pada tiap-tiap desanya. Sedangkan mengenai bahasanya persis sama dengan terdapat variasi dalam tekanan atau dialeknya, namun isi dan pengertiannya sama. Budaya inilah yang mendasar dan memperkuat hubungan kekeluargaan ke jiwa silahturahiman dari penduduk atau masyarakat dari kedua pulau : yaitu pulau Dawera dan pulau Dawelor itu.
Mengenai daerah petuanan di kedua pulau tersebut, dapatlah dijelaskan bahwa daerahnya terbagi dalam berbagai petuanan atau desa menurut adat atau kelompok asal sub kekeluargaan.
Adapun pembagian daerah petuanannya sebagai berikut ini :

1.      Pulau Dawera terbagi dalam 4 daerah petuanan atau desa yaitu : Desa Ilmarang, Desa Lekleli, Desa Letmasa, dan Desa Welora.
2.  Pulau Dawelor terbagi dalam 3 daerah petuanan atau desa, yaitu : Desa Watuwei, Desa Wiratan, dan Desa Nurnyaman.

Pembagian Daerah petuanan  atau pedesaan Ini adalah pembagian sesudah datangnya pendatang baru dari luar yaitu dari penduduk pulau Versadi (Bersadi) sebelah selatan pulau Yamdena. Pulau Bersadi yang tenggelam karena tergenang atau terendam air laut, maka penduduknya dengan perahu atau orempai (bahasa Dawelor-Dawera) atau arombai, menyebar ke Timur ke daratan Yamdena dan sebagainya ke arah Barat. Salah satu perahu mereka singgah di pulau dawelor di desa Ower, selain itu ada Desa Tomreli dan Desa Alkuki yaitu desa-desa zaman dahulu yang sudah tergabung menjadi satu dengan nama Desa Wiratan. Sedangkan perahu-perahu yang lain berlayar terus menuju ke arah Barat. Salah satu keluarga dari perahu yang singgah itu yaitu keluarga Wamekm bersama isteri dan anaknya yang bernama Saily turun dan tinggal di Desa Ower. Dari keluarga Wamekm ini lahir lagi tiga anak laki-laki yang di beri nama Lakwel atau Lekawael (artinya  negeri yang tenggelam karena tergenang air), Warsoy dan Lamer (Lawery). Sesudah anak-anak ini menjadi besar, masing-masing mencari tempat tinggal sendiri, Saily tetap tinggal di Ower atau Wiratan (sekarang), Lekawael pindah di Desa Ilmarang, Warsoy pindah di Desa letmasa dan Luwresy (Lawery) pindah di desa Welora dan hingga sekarang ini keturunan mereka masih berdiam pada desa itu masing-masing. Sampai sekarang ini, keempat kekeluargaan ini selalu membina hubungan kekeluargaan terutama dalam masalah adat, pesta kekerabatan adat dan sebagainya. Apalagi dalam masa kemajuan dewasa ini antar keluarga selalu saling membantu bila salah satu ada masalah.

C.      Penyebab Kehancuran Desa Maray

Mendahului pembahasan tentang kehancuran Desa Maray. Pada bagian ini penyusun menyajikan lebih dulu tentang struktur kewilayahan serta hubungan kemasyarakatan antara desa Ilmarang dan desa Wiratan sekarang ini pada zaman dahulu kala. Karena waktu itulah masa adanya/berdirinya Desa Alkuki, Desa Ower, dan Tomreli (penduduknya sudah bergabung dan daerah petuanannya sudah menyatu sekarang sebagai Desa Wiratan) di Dawelor. Sedangkan di Dawera terdapat petuanan Desa Ilmarang, pada zaman dahulu kala terdapat 4 desa yaitu Desa Lekrei, Desa Lekwei, dan Desa Loilor. Ketiganya terdapat di dataran tinggi berbukit/bertingkat dan yang ke-4 yaitu Desa Maray, terletak pada dataran rendah yang berdekatan dengan desa Loilor yang terletak pada tingkat pertama daerah dataran bertingkat termaksud. Pada masa itu antara desa-desa Ower dan Tomreli terdapat hubungan kekeluargaan dengan penduduk Desa Marai dan Desa Loilor di Pulau Dawera, yang selalu saling kunjung mengunjungi.
Pada saat kondisi yang aman dimana setiap anggota masyarakat pada berbagai desa dikedua Pulau dawera dan Dawelor sedang menghirup kehenungan malam, dimana sebagian besar sedang menikmati ketenangan dan kepulasan tidurnya, tiba-tiba turun angin tofan yang kuat serta menggelorakan permukaan laut dan menimbulkan gelombang laut yang sangat besar yang naik ke darat serta menyebar kepermukaan dataran rendah di mana terdapat desa Maray. Karena dalam kecepatan luar biasa dan kekuatan gelombang begitu hebat, menyebabkan penduduk desa marai itu menjadi panik sehingga dapat lari untuk meluputkan diri dari angin tofan gelombang pasang kuat itu. Akibatnya penduduk Desa Maray semuanya meninggal sebagai korban bencana angin tofan dan gelombang besar yang melanda desa yang malang itu.
Namun diantara penduduk desa yang malang tersebut Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Adil dan pengasih itu masih mengulurkan tangan yang penuh rahmat itu masih mempertahankan dua insan kecil yang telah ditinggalkan kedua orang tuanya, dimana keduanya berasal dari keluarga atau orang tua yang berbeda.
Sedangkan kedua anak ini, satunya laki-laki yang bernama Ruimas dan yang seorang adalah perempuan yang bernama Matmey. Karena keduanya telah menjadi yatim piatu, kini keduanya terpaksa harus mencari sesuatu untuk menghidupi mereka sendiri.
Karena ombak melanda dan merusak rumah mereka, seluruh kekayaan orang tuanya telah musnah lenyap. Selain itu kebun dan hasil kebun pun sudah tersapu habis dan sumur air minum mereka sudah tertutup sapuan air gelombang. Sehingga permukaan sumur tersebut bagaikan sebuah kawah kecil, sehingga sampai sekarang masih ada dan dijadikan kebun / tanah pertanian dari keluarga Ruimassa keturunan dari Ruimas itu. Sedangkan luput atau selamatnya kedua anak ini karena mereka terangkat dan terbawa sapuan ombak ke lereng bukit dan terhempas ke dalam sebuah liang yaitu goa di kaki bukit sehingga pada saat air gelombang laut turun, keduanya tertinggal dalam goa / liang dan luput dari kematian.
 Penduduk dari Desa Lekrei, Lekwei, dan Loilor itu, karena masih merasakan dan mengenangkan hebatnya angin tofan dan gelombang pasang besar yang memusnahkan itu. Sehingga mereka belum mau turun untuk melihat puing-puing desa maray untuk mencari mayat penduduk Desa Maray yang masih bergelimpangan, terlantar dan tersebar kemana-mana dan yang sedang membusuk. Dalam keadaan yang tidak menentu dan menyediakan itu, kedua anak yatim piatu, Ruimas dan Matmey sebagai anak-anak yang belum mampu mengerti suasana kesedihan yang mereka alami. Serta masalah kelaparan yang bakal mereka hadapi, mulai mengayunkan kaki melangkah satu persatu di tengah reruntuhan serta tebaran mayat penduduk yang bernasib buruk itu. Keduanya berjalan dan sangat hati-hati menuju ke pantai untuk mencari ikan ke tepi laut yang sewaktu-waktu masih sangat membahayakan hidupnya. Tujuan mereka ke pantai itu untuk mencari umbi-umbian di dalam kebun yang berdekatan dengan pantai dan selanjutnya untuk mencari ikan di laut untuk di makan bersama olehnya seharian itu.
Dalam keadaan nasib berdua yang tidak menentu dan bahaya kematian kelaparan yang semakin menghadang dan mendekat, yang memang tidak terpikirkan akibat sifat kekanak-kanakan mereka sehingga masih belum terjangkau kemampuan nalar keduanya itu. Dalam keadaan yang memang terbayangkan keduanya, telah sampai anugerah Tuhan, datanglah seorang yang masih termasuk hubungan kekeluargaan dengan orang tua dari kedua anak tersebut. Dia datang dari Desa Tomreli Pulau Dawelor untuk mau melihat sanak keluarganya yaitu orang tua atau keluarga dari Ruimas dan Matmey, apakah mereka masih hidup ataukah telah meninggal akibat dari bencana angin tofan dan gelombang besar yang melanda kedua Pulau Dawelor dan Dawera serta khususnya Desa maray di mana keluarganya, orang tua dari Ruimas dan Matmey itu berada setelah dia melihat dan menyaksikan puing-puing desa dan tebaran mayat yang bergelimpangan itu putuslah harapan dan yakinlah bahwa seluruh penduduk Desa maray termasuk sanak saudaranya telah meninggal sebagai korban bencana angin tofan dan gelombang pasang besar yang melanda dataran rendah desa Maray. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang dengan menyususr tepi pantai maka dia turun ke pantai teluk maray yang memang sangat indah pemandangan alamnya itu.
Setibanya di pantai itu, dia memandang ke laut terlihatlah dua sosok manusia kecil yang sedang mencari ikan. Dan dia berlari ke laut untuk menemui ke dua anak kecil tersebut. Segera mengetahui siapakah mereka berdua itu. Setelah mendekat dia sangat kaget dan heran dan berpikir kok masih ada hidup dua insan kecil yang sebenarnya tidak mampu menahan kekuatan hempasan gelombang besar dan kuat itu. Sedangkan orang tua mereka malah tidak mampu dan menjadi korban bencana tofan gelombang itu. Kiranya apa alasan dan latar belakang yang menyebabkan korbannya manusia dewasa yang kuat dan selamat atau luputnya kedua insan kecil dari bencana yang mudah saja melumpuhkan dan dapat menghabiskan hidup mahkluk kecil yang tidak berdaya itu. Ini sesuatu tanda heran katanya sambil memeluk kedua anak itu dengan bercucuran air matanya. Dia menanyakan apa atau siapa yang menyelamatkan keduanya dari bencana tofan dan gelombang besar yang telah menewaskan semua penduduk Desa Marai termasuk orang tua mereka sedangkan mereka berdua sendiri bisa bebas dari bencana tersebut?
Mendengar pertanyaan orang tua itu, anak-anak Ruimas dan Matmey menjawabnya dengan menceritakan apa yang mereka telah alami sendiri. Bahwa mereka sendiri mengapa terjadi demikian kepada mereka berdua karena setelah dan sedang bekecamuknya angin dan gelombang pasang besar yang mengamuk mereka terbawa keluar rumah yang sedang roboh, oleh kekuatan derasnya aliran air laut yang mengganas itu ke lereng bukit dan air gelombang tersebut menghempaskan kami berdua ke dalam goa atau liang yang ada pada pertemuan kaki bukit dan tepi di atas lereng itu sehingga pada saat air gelombang surut kami berdua tertinggal dalamgoa atau liang itu. Dan itulah yang kami alami dalam bencana itu! Dan kami melihat keadaan sudah tenang lagi, baru pada hari kedua setelah kami memperhatikan keadaan alam, kami turun ke pantai untuk mencari sendiri umbi-umbian di kebun di pantai dan sekaligus kami mencari ikan untuk makanan kami berdua seharian ini. Mendegar ke dua cerita anak itu orang tua itu tunduk memeluk mereka dan menangis. Dia mengajak kedua anak itu agar mereka mau rela mengikutinya ke desanya di Pulau Dawelor yaitu Desa Tomreli. Katanya, dia akan menjaga dan memelihara keduanya sampai dewasa dan keduanya akan kembali ke wilayah atau daerah leluhur mereka yaitu bekas desa Marai, tempat kelahiran mereka untuk membangunnya kembali dan mendiaminya.

D.     Membangun Kembali Desa Maray

Dengan terjadinya kehancuran dan musnahnya Desa marai itu, ketiga desa lainnya yang berada di daerah petuanannya seperti telah di uraikan di muka, rasanya penduduk desa-desa itu yang tadinya kurang begitu intim dalam pergaulan hidup mereka telah tergugah hatinya untuk bergabung dan hidup dalam suatu desa yang mempersatukan mereka.  Setelah terjadinya perpetuanan dan perundingan sesama mereka di capailah kesepakatan untuk membentuk desa baru di dataran rendah dimana pernah berdirinya desa Marai itu. Dengan kesepakatan itu, penduduk ketiga desa itu terutama Desa Lekrey turun ke dataran rendah. Disebelah ujung barat teluk marai dan membangun desa Lekwaki. Sedangkan kedua anak yang di asuh oleh orang tua di desa tomreli itu, sudah kembali ke dawera. Tetapi tinggal di Desa Loilor, maka keluarga Ruimas dan Matmey tidak mau turun ke dataran rendah karena mau tinggal tetap di desa Lolior saja. Oleh sebab itu, keluarga Derley (Letlora) turun ke dataran rendah dan membangun desa baru (Let Wikwik) di dekat pantai pada bagian pertengahan teluk Marai dengan pemandangan alamnya yang sangat indah itu.

Pada abad 16 dan 19, terjadi perang antara desa Lekwaky (keluarga Lekawael) dan dengan desa Loilor (keluarga Ruimas dan Matmey), penduduk desa Lekwaki (Lekawael-Ulpupy) meminta bantuan dari Desa Tepa. Dalam perang tersebut pasukan bantuan dari tepa (Lekwak) berhasil meruntuhkan tembok (Dewala) desa Loilor akhirnya desa Loilor itu kalah perang dan berdiam dengan desa Lekwaky (Lekawael) dan bantuan dari Tepa kembali ke Tepa dan hubungan kekeluargaan Lekwaki (Lekawael-Ulpupy) dan Lekwak (Tepa-Taliak) makin menjadi erat lagi.

Dengan akibat perang tersebut, maka penduduk desa Loilor (Ruimas dan Matmey), penduduk desa Let Wikwik (Letlor dan Lolkary) dan penduduk desa Lekwaki (Lekawael dan Ulpupy) menjadi rukun lagi dan mengadakan musyawarah dan memutuskan untuk bergabung dan membangun tembok/dewala desa baru yang di beri nama Desa Maray. Karena telah hidup dalam kondisi alam penjajahan mulai dari portugis, maka penduduk maray melakukan pelayaran dengan perahu ke Maluku Tengah (Ambon dan Passo). Lain ke sebelah barat ke pulau-pulau Luang-Sermata. Di pulau Luang, mereka singgah di desa Ilmarang yang sangat mengesankan bagi mereka tentang penduduk, adat pergaulan, dan keramah tamahan penduduknya, dan lebih tertarik lagi adalah nama desa tersebut yaitu “ILMARANG”. Dan setelah pelayar-pelayar tersebut kembali di desa Maray, mereka menggantikan nama Desa Maray itu dengan nama baru yaitu “ILMARANG” sampai pada masa sekarang ini.

E.      Kesimpulan

Dengan terjadinya kehancuran Desa Maray (Maray I dahulu) telah terjadi hal-hal yang mendasar yaitu:
1.      Nama anak-anak : Lelaki Ruimas dan perempuan Matmey, menjadi cikal bakal keluarga besar Ruimassa dan Matmey.
2.  Beberapa Desa yang terpencar di daerah dataran tinggi dan bertahap-bertingkat, yang sebelumnya kurang intim dan saling menyerang dan berperang, akhirnya rujuk dan terintegrasi serta bersatu dalam satu desa yaitu Desa Maray (desa Maray kedua).
3.      Nama desa Maray, sebagai nama Desa sesuai adat istiadat setempat (adat istiadat di Dawera-Dawelor), sesuai perkembangan dan dalam masa penjajahan, di ganti dengan sebutan baru, yaitu ilmarang sehingga di sebut “DESA ILMARANG”.

2 komentar:

  1. sejarah tak akan pernah mati tp sll menjadi awal dari kehidupan baru

    BalasHapus
  2. trimakasih menambah wawasan sejarah nusantara..

    BalasHapus